Senin, 25 Februari 2013

Tanpa judul

Menghilang sekian lama, apakah hanya untuk memanjakan tubuh ringkih yang entah terwariskan begini, atau memang jatah penciptaan diri ini yang memang begini, atau hanya sekedar kelemahan yang terbungkus dalam kesenangan dan kelenaan.

  Apakah selama ini hanya amarah, rasa dendam, belenggu yang terpelajari dan terbentuk, ataukah justru welas asih, semangat memaafkan, tak melekat meski sadar bahwa melekat tak sama dengan terikt. Dan itu tak perlu didebatkan.

  Bila semua adalah relatif, maka hati pun juga relatif. Relatif maka pilihan, maka begitulah kehidupan. Maka pilihan pula menjalani hidup ini dengan jalan apa. Meski takdir tertatah tak tertawar, namun tentu Tuhan pun tak mau ciptaannya menderita karenanya. Maka penderitaan berasal dari sendiri. Diciptakan diri sendiri. Dan mengapa memilih belenggu ketimbang padang bunga nan wangi.

  Yang tak bisa dimiliki, dan terus menjauh tak perlu terus dikejar, meski sekuat keinginan demi diri sendiri. Hidup dengan mengkultivasi hati dan jiwa tentu lebih berharga ketimbang birahi tubuh yang ringkih meski indah dan menggiurkan.

  Tertipu dan terbawa perasaan, pemikiran diri sendiri. Mengurung cahaya nan lembut meredup dalam baluran pekat yang dibuat sendiri. Tentu lebih baik menjalaninya dengan jalan tengah, tak berat ke sisi manapun, tak terpengaruh, namun tetap menghormati dan menghargai sisi itu.

  Maka mengapa memilih duri yang menyakitkan meski terlihat indah, ketimbang benih kebaikan yang mengenyangkan, meski kecil. Kesederhanaan tak perlu sebuah kemewahan asalkan itu murni tentu lebih baik.

  Dan tentunya semangat memaafkan lagi, meski sebusuk dan seborok apapun luka yang pernah ditatahkan pihak lain. Kebahagiaan, kelapangan, kedamaian ada dalam hati. Nafsu, murka, ketertutupan juga ada dalam hati. Ini hanya soal pilihan, namun terlalu berharga bila hanya disimpan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar