Tanpa judul
Menghilang sekian lama, apakah hanya untuk memanjakan tubuh ringkih
yang entah terwariskan begini, atau memang jatah penciptaan diri ini
yang memang begini, atau hanya sekedar kelemahan yang terbungkus dalam
kesenangan dan kelenaan.
Apakah selama ini hanya amarah, rasa
dendam, belenggu yang terpelajari dan terbentuk, ataukah justru welas
asih, semangat memaafkan, tak melekat meski sadar bahwa melekat tak sama
dengan terikt. Dan itu tak perlu didebatkan.
Bila semua adalah
relatif, maka hati pun juga relatif. Relatif maka pilihan, maka
begitulah kehidupan. Maka pilihan pula menjalani hidup ini dengan jalan
apa. Meski takdir tertatah tak tertawar, namun tentu Tuhan pun tak mau
ciptaannya menderita karenanya. Maka penderitaan berasal dari sendiri.
Diciptakan diri sendiri. Dan mengapa memilih belenggu ketimbang padang
bunga nan wangi.
Yang tak bisa dimiliki, dan terus menjauh tak
perlu terus dikejar, meski sekuat keinginan demi diri sendiri. Hidup
dengan mengkultivasi hati dan jiwa tentu lebih berharga ketimbang birahi
tubuh yang ringkih meski indah dan menggiurkan.
Tertipu dan
terbawa perasaan, pemikiran diri sendiri. Mengurung cahaya nan lembut
meredup dalam baluran pekat yang dibuat sendiri. Tentu lebih baik
menjalaninya dengan jalan tengah, tak berat ke sisi manapun, tak
terpengaruh, namun tetap menghormati dan menghargai sisi itu.
Maka mengapa memilih duri yang menyakitkan meski terlihat indah,
ketimbang benih kebaikan yang mengenyangkan, meski kecil. Kesederhanaan
tak perlu sebuah kemewahan asalkan itu murni tentu lebih baik.
Dan tentunya semangat memaafkan lagi, meski sebusuk dan seborok apapun
luka yang pernah ditatahkan pihak lain. Kebahagiaan, kelapangan,
kedamaian ada dalam hati. Nafsu, murka, ketertutupan juga ada dalam
hati. Ini hanya soal pilihan, namun terlalu berharga bila hanya
disimpan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar