Merayap menatahi jarak demi jarak aspal yang tak pernah rata
Butir butir keringat meluncur bebas... basah
Asap asap pekat bersorakan menghambur dari lubang lubang besi
Terik lampu langit memanggang matang kulit yang telah hitam
Hingga khatam... legam
Aspal jalanan yang terinjak injak sepanjang
masanya
Barangkali akan mengumpat kala ku tumpahkan ludahku
ke atasnya
Namun, ah... siapa peduli
Sebab dia hanya berbaring di bawah kaki
Bahkan dia tak tahu dia itu hidup apa mati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar