Senin, 25 Februari 2013
Harapan yg memudar
saat semua terlahir begitu indah
tak menampakan sebuah penyesalan dan kesia-siaan
tapi apakah kita mampu melawan saat takdir berkata lain…??
tak dapat terbait disaat harapan mulai mamudar oleh sebuah kelalaian
kegagalan yang tak membuah sebuah pelajaran
berlahan mengikis mimpi dan harapan…
mimpi itu harapan itu dulu..
entah kemana perginya
seakan aku bosan menjalaninya, lelah mencarinya
hanya perih yang tercipta dari laku ku
hanya luka yang berbuah dari setiap tutur kataku
sungguh tak berharap aku berdiri di sini kini
tak berharap mengenal dunia dulu, dunia yang tak mampu aku kenal
kini hanya terkapar menanti harapan yang kosong
angkat aku dari gelap ini
sinari langkah ku dalam kelam ini
karena aku tak mampu lagi sendiri
sudah terlalu lelah
meski pasrah pun tak ada guna
selamatkan jiwa yang remuk redam ini
sebelum semua terlambat
sebelum semuanya mati
Suram
senyap yang terasa..mengerang pelan
bisu menggigit setiap tetes sepi
lalu terhembus ratapan malam
melolong pilu..tertahan
lari aku ke tempat itu
di mana setiap hembus nafas adalah
rintih angin malam
dan dada jadi sulit tegap..sulit menghadap
karena beban yang menyesak..menyeruak
dari hati..dari asa..dari jiwa
lahirkan tetes tetes bening kesedihan
umpatan heningnya kebencian
dalam diam dingin menggigit
dalam sunyi sepi mencabik
jiwa menggigil dalam duka
gelap menjalar pelan dalam sukma
hingga kapan ku kan bertahan?
dengarkan malam nyanyikan sunyi
menanti cahaya tuk tarik kembali
diri yang tersesat dalam gelap
senyap yang terasa..masih saja mengerang pelan
JIKA
JIKA suara dibiskkan serta kondisi telah meliputi sekitarku, maka telinga mendengarkan, mulut terdiam, seraya mataku mengamati keadaan yang sedang terjadi...
JIKA perhatian lingkup tertuju balik padaku maka gerakan tubuhku takkan mengada-ada...
JIKA semua kelakuanku maupupun keberadaanku memberikan inspirasi bagi kalian seperti akhir yang suram dalam kehidupan ini maka cepat-cepatlah introspeksi diri kalian...
JIKA intuisi sekitar telah mempertanyakan konflik pada diriku maka inilah aku dengan segala kepribadian yang tak patut dijadikan panutan...
Isi hati atau apalah.
Ku ayunkan kembali langkah-langkah kaki ku
Di jalan penuh salju dan menanjak tinggi
Ku genggam erat pedangku
Gunung Surga....
Dalam langkah-langkah gontai ku...
teringat kembali semua yang di belakang
Cinta....
Penyesalan...
Harapan...
Pengkhianatan....
Rasa sakit....
Ku raih kembali pedangku
Darah-darah kering terlintas di mataku
Tak ku hiraukan
Tetap berjalan di Gunung Surga
Tak akan berakhir
Ketika semua telah berlalu
Dipecundangi sang waktu
Kembali ku tebaskan pedangku
Semburat darah hangat memancar deras
Tak berujung
Tak bertepi
Mati....
Tanpa judul
Menghilang sekian lama, apakah hanya untuk memanjakan tubuh ringkih
yang entah terwariskan begini, atau memang jatah penciptaan diri ini
yang memang begini, atau hanya sekedar kelemahan yang terbungkus dalam
kesenangan dan kelenaan.
Apakah selama ini hanya amarah, rasa
dendam, belenggu yang terpelajari dan terbentuk, ataukah justru welas
asih, semangat memaafkan, tak melekat meski sadar bahwa melekat tak sama
dengan terikt. Dan itu tak perlu didebatkan.
Bila semua adalah
relatif, maka hati pun juga relatif. Relatif maka pilihan, maka
begitulah kehidupan. Maka pilihan pula menjalani hidup ini dengan jalan
apa. Meski takdir tertatah tak tertawar, namun tentu Tuhan pun tak mau
ciptaannya menderita karenanya. Maka penderitaan berasal dari sendiri.
Diciptakan diri sendiri. Dan mengapa memilih belenggu ketimbang padang
bunga nan wangi.
Yang tak bisa dimiliki, dan terus menjauh tak
perlu terus dikejar, meski sekuat keinginan demi diri sendiri. Hidup
dengan mengkultivasi hati dan jiwa tentu lebih berharga ketimbang birahi
tubuh yang ringkih meski indah dan menggiurkan.
Tertipu dan
terbawa perasaan, pemikiran diri sendiri. Mengurung cahaya nan lembut
meredup dalam baluran pekat yang dibuat sendiri. Tentu lebih baik
menjalaninya dengan jalan tengah, tak berat ke sisi manapun, tak
terpengaruh, namun tetap menghormati dan menghargai sisi itu.
Maka mengapa memilih duri yang menyakitkan meski terlihat indah,
ketimbang benih kebaikan yang mengenyangkan, meski kecil. Kesederhanaan
tak perlu sebuah kemewahan asalkan itu murni tentu lebih baik.
Dan tentunya semangat memaafkan lagi, meski sebusuk dan seborok apapun
luka yang pernah ditatahkan pihak lain. Kebahagiaan, kelapangan,
kedamaian ada dalam hati. Nafsu, murka, ketertutupan juga ada dalam
hati. Ini hanya soal pilihan, namun terlalu berharga bila hanya
disimpan.
Sajak Aspal Jalanan
Merayap menatahi jarak demi jarak aspal yang tak pernah rata
Butir butir keringat meluncur bebas... basah
Asap asap pekat bersorakan menghambur dari lubang lubang besi
Terik lampu langit memanggang matang kulit yang telah hitam
Hingga khatam... legam
Aspal jalanan yang terinjak injak sepanjang
masanya
Barangkali akan mengumpat kala ku tumpahkan ludahku
ke atasnya
Namun, ah... siapa peduli
Sebab dia hanya berbaring di bawah kaki
Bahkan dia tak tahu dia itu hidup apa mati
Langganan:
Komentar (Atom)

