Senin, 25 Februari 2013

Ra penting

Shalom...
Saat ku pilih ini sebagai harapan sejak itu pula aku arahkan hidupku pada harapan yang ku pilih..
harapan terbesar disana tersirat sebuah impian masa kecilku , impian terbesar ku..
aku jalani hari dan tetap berjalan di jalur pada harapanku..
setiap tindakan dan langkah selalu aku berfikir akan kah ku gapai harapan ini?
di dalam berkelud sering kali ku ucapkan Ya Tuhan ku mohon ini impian ku, aku tau Engkau tau ini, Kau tau aku begitu mengejar impian ini, sungguh Kau tau Tuhan . harapan ini mungkin juga di miliki oleh banyak orang lainnya ..

namun aku, aku begitu memahami keinginan ini ya Tuhan,.. besar asaku untuk harapan ini..

saat semua berjalan sempurna di tengah perjalanan ku temukan persimpangan tanpa petunjuk ..

kemana akan ku kejar harapan ini?  jalan apa yang harus ku lewati..

harapan yang memudar ..


aku terhentak dengan semua ini, hati kecilku berkata aku tak sanggup menerima ini semua aku tak sanggup..

karna ke egoisan ku dan ambisi ku yang kuat..

sebenarnya ada jalan pintas agar ku mencapai harapan itu..

namun ..

haruskah aku selalu saja mengorbankan orang tua ku lagi? tak tega rasanya jika ku harus tetap menyusahkan mereka..

papi mami cukup untuk membesarkan ku saja , untuk hal masa depan ku aku sama sekali tak ingin menyusahkan mereka..

terbayang harapan besar mereka yang mengiringi langkahku , kerja keras papi kasih sayang mami tak mungkin aku bisa membalasnya hanya satu permintaan mereka seperti harapan ku ..

harusnya aku bisa mencapai harapan ini dengan kemampuan ku seperti mereka yang memiliki mimpi yang sama denganku..

ada penyesalan yang besar di hati dan ada semangat kecil yang sedang membakar kekecewaan hati..


ini baru setengah perjalanan Axl , kau belum tentu gagal kau belum di final ..

logika ku berfikir masih banyak waktu untuk mewujudkan mimpi..

semoga aku bisa menggapai harapan itu..

dari harapan dan cobaan ini aku mengerti saat ini ku sudah dewasa..


kedewasaan yang ku inginkan sejak kecil ternyata tak seindah di waktu ku kecil..

penuh cobaan, harus kritis dan bijak terhadap masalah..





mengerti arti sebuah kesuksesan setelah mengalami kegagalan, mengerti arti sebuah ilmu setelah kehilangan ilmu dan mengerti waktu itu emas setelah waktu itu berlalu dan takkan kembali..

 aku hidup hanya untuk kebagiaan orang tuaku semoga Tuhan memudahkan langkah ku....

Harapan yg memudar

saat semua terlahir begitu indah

tak menampakan sebuah penyesalan dan kesia-siaan

tapi apakah kita mampu melawan saat takdir berkata lain…??

tak dapat terbait disaat harapan mulai mamudar oleh sebuah kelalaian

kegagalan yang tak membuah sebuah pelajaran

berlahan mengikis mimpi dan harapan…

mimpi itu harapan itu dulu..

entah kemana perginya

seakan aku bosan menjalaninya, lelah mencarinya

hanya perih yang tercipta dari laku ku

hanya luka yang berbuah dari setiap tutur kataku

sungguh tak berharap aku berdiri di sini kini

tak berharap mengenal dunia dulu, dunia yang tak mampu aku kenal

kini hanya terkapar menanti harapan yang kosong

angkat aku dari gelap ini

sinari langkah ku dalam kelam ini

karena aku tak mampu lagi sendiri

sudah terlalu lelah

meski pasrah pun tak ada guna

selamatkan jiwa yang remuk redam ini

sebelum semua terlambat

sebelum semuanya mati

Suram

senyap yang terasa..mengerang pelan
bisu menggigit setiap tetes sepi
lalu terhembus ratapan malam
melolong pilu..tertahan

lari aku ke tempat itu
di mana setiap hembus nafas adalah
rintih angin malam
dan dada jadi sulit tegap..sulit menghadap

karena beban yang menyesak..menyeruak
dari hati..dari asa..dari jiwa
lahirkan tetes tetes bening kesedihan
umpatan heningnya kebencian

dalam diam dingin menggigit
dalam sunyi sepi mencabik
jiwa menggigil dalam duka
gelap menjalar pelan dalam sukma

hingga kapan ku kan bertahan?
dengarkan malam nyanyikan sunyi
menanti cahaya tuk tarik kembali
diri yang tersesat dalam gelap

senyap yang terasa..masih saja mengerang pelan

JIKA

JIKA suara dibiskkan serta kondisi telah meliputi sekitarku, maka telinga mendengarkan, mulut terdiam, seraya mataku mengamati keadaan yang sedang terjadi...

JIKA perhatian lingkup tertuju balik padaku maka gerakan tubuhku takkan mengada-ada...

JIKA semua kelakuanku maupupun keberadaanku memberikan inspirasi bagi kalian seperti akhir yang suram dalam kehidupan ini maka cepat-cepatlah introspeksi diri kalian...

JIKA intuisi sekitar telah mempertanyakan konflik pada diriku maka inilah aku dengan segala kepribadian yang tak patut dijadikan panutan...

Isi hati atau apalah.

Ku ayunkan kembali langkah-langkah kaki ku
Di jalan penuh salju dan menanjak tinggi
Ku genggam erat pedangku

Gunung Surga....
Dalam langkah-langkah gontai ku...
teringat kembali semua yang di belakang

Cinta....
Penyesalan...
Harapan...
Pengkhianatan....
Rasa sakit....

Ku raih kembali pedangku
Darah-darah kering terlintas di mataku
Tak ku hiraukan
Tetap berjalan di Gunung Surga

Tak akan berakhir
Ketika semua telah berlalu
Dipecundangi sang waktu
Kembali ku tebaskan pedangku
Semburat darah hangat memancar deras

Tak berujung
Tak bertepi

Mati....

Tanpa judul

Menghilang sekian lama, apakah hanya untuk memanjakan tubuh ringkih yang entah terwariskan begini, atau memang jatah penciptaan diri ini yang memang begini, atau hanya sekedar kelemahan yang terbungkus dalam kesenangan dan kelenaan.

  Apakah selama ini hanya amarah, rasa dendam, belenggu yang terpelajari dan terbentuk, ataukah justru welas asih, semangat memaafkan, tak melekat meski sadar bahwa melekat tak sama dengan terikt. Dan itu tak perlu didebatkan.

  Bila semua adalah relatif, maka hati pun juga relatif. Relatif maka pilihan, maka begitulah kehidupan. Maka pilihan pula menjalani hidup ini dengan jalan apa. Meski takdir tertatah tak tertawar, namun tentu Tuhan pun tak mau ciptaannya menderita karenanya. Maka penderitaan berasal dari sendiri. Diciptakan diri sendiri. Dan mengapa memilih belenggu ketimbang padang bunga nan wangi.

  Yang tak bisa dimiliki, dan terus menjauh tak perlu terus dikejar, meski sekuat keinginan demi diri sendiri. Hidup dengan mengkultivasi hati dan jiwa tentu lebih berharga ketimbang birahi tubuh yang ringkih meski indah dan menggiurkan.

  Tertipu dan terbawa perasaan, pemikiran diri sendiri. Mengurung cahaya nan lembut meredup dalam baluran pekat yang dibuat sendiri. Tentu lebih baik menjalaninya dengan jalan tengah, tak berat ke sisi manapun, tak terpengaruh, namun tetap menghormati dan menghargai sisi itu.

  Maka mengapa memilih duri yang menyakitkan meski terlihat indah, ketimbang benih kebaikan yang mengenyangkan, meski kecil. Kesederhanaan tak perlu sebuah kemewahan asalkan itu murni tentu lebih baik.

  Dan tentunya semangat memaafkan lagi, meski sebusuk dan seborok apapun luka yang pernah ditatahkan pihak lain. Kebahagiaan, kelapangan, kedamaian ada dalam hati. Nafsu, murka, ketertutupan juga ada dalam hati. Ini hanya soal pilihan, namun terlalu berharga bila hanya disimpan.

Sajak Aspal Jalanan

Merayap  menatahi  jarak  demi  jarak  aspal  yang  tak  pernah  rata

Butir  butir  keringat  meluncur  bebas...  basah


Asap  asap  pekat  bersorakan  menghambur  dari  lubang  lubang  besi

Terik  lampu  langit  memanggang  matang  kulit  yang  telah  hitam

Hingga  khatam...  legam




Aspal  jalanan  yang  terinjak  injak  sepanjang      

masanya


Barangkali  akan  mengumpat  kala  ku  tumpahkan  ludahku

ke  atasnya




Namun,  ah...  siapa  peduli

                Sebab  dia  hanya  berbaring  di  bawah  kaki

                              Bahkan  dia  tak  tahu  dia  itu  hidup  apa  mati